Logo Desa Keji

SIJI

Sistem Informasi Keji

Logo Desa Keji

Sistem Informasi Desa Keji

Kec. Ungaran Barat, Kab. Semarang

Kembali ke Arsip Berita
Grebeg Wajik Desa Keji: Merawat Tradisi Syuro, Mengukuhkan Persatuan dan Kemakmuran
Berita Desa

Grebeg Wajik Desa Keji: Merawat Tradisi Syuro, Mengukuhkan Persatuan dan Kemakmuran

12 Juli 2026 pukul 04.08Admin Desa

SEMARANG – Menjaga warisan budaya leluhur di tengah arus modernisasi terus dilakukan secara konsisten oleh masyarakat Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Salah satu perwujudan nyata dari upaya tersebut adalah perayaan tradisi Grebeg Wajik, sebuah ritual tahunan yang memadukan dengan harmonis nilai-nilai ajaran Islam dan kearifan Tradisi Jawa.

SEMARANG, 11 Juli 2026 – Menjaga warisan budaya leluhur di tengah arus modernisasi terus dilakukan secara konsisten oleh masyarakat Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Salah satu perwujudan nyata dari upaya tersebut adalah perayaan tradisi Grebeg Wajik, sebuah ritual tahunan yang memadukan dengan harmonis nilai-nilai ajaran Islam dan kearifan Tradisi Jawa. Seperti yang tergambar jelas dalam visualisasi "“Tuku wajik Ning deso keji, sing penting apik lan nyawiji..jpg.jpeg", tradisi budaya ini berpusat pada arak-arakan sebuah gunungan besar yang terbilang unik. Berbeda dengan gunungan hasil bumi pada umumnya, gunungan ini menggunakan wajik—jajanan tradisional khas yang terbuat dari ketan dan gula merah—sebagai elemen utamanya. Wajik-wajik tersebut ditempelkan sedemikian rupa pada bagian dasar gunungan agar konstruksinya dapat berdiri kokoh saat diarak oleh warga mengelilingi desa. Pemilihan wajik dalam tradisi yang rutin diselenggarakan setiap bulan Muharam (Syuro) sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Haul Sesepuh Desa Keji ini bukanlah tanpa alasan. Terdapat makna dan filosofi mendalam yang sangat lekat dengan kehidupan bermasyarakat, di antaranya: Simbol Persatuan dan Kerukunan: Sifat ketan yang lengket pada wajik melambangkan persatuan yang erat. Dalam filosofi Jawa, kelengketan ini merepresentasikan kerukunan dan hubungan yang harmonis serta tak terpisahkan antara para pemimpin desa dan rakyatnya. Harapan akan Kesejahteraan: Rasa manis yang dihasilkan dari gula merah pada wajik merupakan perwujudan dari doa dan harapan masyarakat. Rasa manis ini melambangkan cita-cita akan kehidupan yang senantiasa makmur, damai, dan sejahtera ke depannya. Filosofi Kebersamaan: Bentuk wajik yang dipotong kotak-kotak dan disusun saling menyambung di gunungan mengandung filosofi kebersamaan. Hal ini bermakna bahwa setiap individu harus saling menopang satu sama lain dalam menjalin struktur masyarakat yang kuat. Melalui kemeriahan dan kekhusyukan acara Grebeg Wajik ini, masyarakat Desa Keji membuktikan bahwa tradisi yang berakar kuat akan selalu memiliki tempat di hati warganya, tak lekang oleh waktu. Semangat luhur dari rangkaian acara ini terangkum indah dalam sebuah pepatah atau pantun lokal yang berbunyi, "Tuku Wajik Ning Deso Keji, Sing Penting Apik Lan Nyawiji" (Beli Wajik di Desa Keji, Yang Penting Baik dan Bersatu/Menyatu). Sebuah pesan moral yang senantiasa mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga kebaikan dan persatuan di tengah indahnya keberagaman.