Berita DesaHarmoni Lintas Generasi: Mahasiswa KKNT Undip dan Tokoh Masyarakat Melebur dalam Syahdunya Haul Desa Keji
12 Juli 2026 pukul 07.11Admin Desa
Keberhasilan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, melainkan dari kedekatan yang terjalin dengan warga. Hal ini dibuktikan oleh rombongan besar mahasiswa KKNT Universitas Diponegoro (Undip) yang tampil kompak membaur bersama tokoh agama dalam acara pengajian Haul Desa Keji, Kabupaten Semarang. Kehadiran mereka menjadi potret nyata perpaduan antara insan akademis dan nilai-nilai kearifan lokal, menciptakan harmoni yang menjembatani perbedaan generasi.
SEMARANG – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai puncak acara pengajian Haul Sesepuh di Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Acara keagamaan yang rutin digelar warga setempat ini terasa semakin istimewa dengan kehadiran dan keterlibatan penuh dari puluhan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Diponegoro (Undip).
Momen keakraban tersebut terekam dengan sangat indah dalam potret "foto.jpg". Rombongan besar mahasiswa KKNT Undip—baik laki-laki maupun perempuan—tampak berfoto bersama dua tokoh agama atau sesepuh desa yang mengenakan busana muslim serba putih lengkap dengan sarung dan peci. Di depan panggung berdekorasi keemasan yang dihiasi lambang Nahdlatul Ulama (NU), perbedaan usia dan latar belakang seolah lebur dalam satu kebahagiaan.
Ada pemandangan menarik dari visual tersebut. Para mahasiswa yang terbiasa dengan dinamika modern kampus, tampil anggun dan sopan dalam balutan busana kasual bernuansa monokrom, baju koko, hijab, hingga sarung. Senyum semringah terpancar dari wajah mereka, kompak berpose memberikan simbol finger heart (simbol hati dengan jari) bersama para sesepuh desa. Pose kekinian yang dilakukan bersama tokoh masyarakat ini seakan menjadi simbol manis perpaduan antara keluwesan generasi muda dan kebijaksanaan generasi tua.
Bagi masyarakat Desa Keji, kehadiran formasi lengkap mahasiswa KKNT dalam acara haul ini menegaskan bahwa para pemuda terdidik tersebut tidak menjadikan desa sekadar "tempat singgah" untuk menggugurkan kewajiban akademik. Mereka hadir, duduk bersama, mengaminkan doa, dan menyelami denyut nadi spiritualitas warga setempat. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada kearifan lokal (local wisdom) yang telah diwariskan turun-temurun.
Sementara itu, bagi para mahasiswa, momen ini adalah kelas sosiologi paling nyata. Di bawah tenda pengajian tersebut, mereka tidak lagi belajar tentang teori-teori pembangunan, melainkan mempraktikkan langsung ilmu srawung, empati, dan tata krama bermasyarakat.
Melalui potret kebersamaan di Desa Keji ini, program KKNT Undip membuktikan kiprahnya. Mereka tidak hanya sukses membawa program kerja ke desa, tetapi juga sukses membawa pulang pelajaran berharga tentang kerendahan hati, toleransi, dan indahnya hidup berdampingan. Sebuah bekal tak ternilai sebelum mereka benar-benar terjun ke masyarakat luas kelak.
